Dibalik Kisah IPO Pertama di Dunia, ART Nekat Kuras Tabungan untuk Investasi, Hasilnya…

Investasi saham sering kali dianggap sebagai permainan orang berduit. Namun, sejarah membuktikan bahwa siapa saja bisa terlibat, bahkan seorang asisten rumah tangga (ART). Kisah Neeltgen Cornelis, seorang ART di Amsterdam pada awal abad ke-17, menjadi bukti bahwa investasi saham bukan hanya milik para bangsawan dan pedagang kaya.

IPO Pertama di Dunia

Pada Agustus 1602, Kongsi Dagang Hindia Belanda atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mencetak sejarah dengan menjadi perusahaan pertama di dunia yang melakukan Initial Public Offering (IPO). Saat itu, VOC menawarkan saham kepada publik di Bursa Efek Amsterdam, menarik ribuan investor dari berbagai kalangan.

Sebagai perusahaan yang menguasai perdagangan rempah-rempah, VOC diprediksi akan meraih kesuksesan besar. Inilah yang membuat banyak orang tertarik berinvestasi, termasuk pejabat, bangsawan, hingga orang-orang biasa. Salah satu investor yang tak terduga adalah Neeltgen Cornelis, seorang ART yang bekerja di rumah Dirck van Os, salah satu direktur VOC.

ART Nekat Kuras Tabungan

ilustrasi Art Deco dengan gaya oil painting yang menggambarkan suasana Bursa Efek Amsterdam tahun 1602. Neeltgen Cornelis terlihat menyerahkan tabungannya kepada seorang pengusaha kaya, di tengah keramaian para investor dan pedagang.

Selama masa IPO, rumah van Os selalu ramai oleh para investor yang berdiskusi tentang saham. Neeltgen, yang setiap hari mendengar pembicaraan itu, mulai tertarik untuk ikut berinvestasi. Namun, ada satu kendala besar: uang.

Sebagai ART, gajinya sangat kecil, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, rasa penasarannya semakin besar. Hingga akhirnya, di penghujung Agustus 1602—saat penawaran saham hampir ditutup—Neeltgen memutuskan untuk bertaruh pada nasibnya.

"Dia berpikir akan selalu menyesal apabila tidak berinvestasi sekarang. Alhasil, dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan uang tabungannya," tulis Lodewijk Petram dalam The World’s First Stock Exchange (2011).

Dengan tabungan sebesar 100 gulden, Neeltgen membeli saham VOC dan menyerahkan uang tersebut kepada majikannya untuk didaftarkan. Namanya pun resmi tercatat sebagai salah satu pemegang saham VOC, meskipun jumlah investasinya sangat kecil dibanding investor lain yang menanamkan puluhan ribu gulden.

Keputusan yang Terlalu Cepat

Keberanian Neeltgen membuahkan hasil. Harga saham VOC mengalami kenaikan dalam beberapa tahun pertama, dan para pemegang saham mulai menikmati keuntungan. Namun, sayangnya, Neeltgen melepas sahamnya terlalu cepat.

Hanya setahun setelah berinvestasi, pada Oktober 1603, ia menjual seluruh sahamnya kepada Jacques de Pourcq. Keputusan ini membuatnya mendapatkan keuntungan kecil, tetapi jauh dari potensi keuntungan besar yang bisa diraih jika ia bertahan lebih lama.

Menurut Petram, jika Neeltgen tetap memegang sahamnya, uang 100 gulden tersebut bisa berkembang menjadi ribuan gulden seiring kejayaan VOC. Bahkan, pemegang saham VOC juga mendapat dividen dalam bentuk rempah-rempah—komoditas paling berharga saat itu.

Sejarah mencatat bahwa VOC kemudian menjadi perusahaan terbesar di dunia selama lebih dari satu abad, menguasai perdagangan rempah-rempah dari Nusantara dan memberikan keuntungan besar bagi para investornya.

Kisah Neeltgen menjadi pelajaran berharga tentang investasi saham. Keberanian untuk berinvestasi adalah langkah awal yang penting, tetapi kesabaran dalam mempertahankan aset juga menjadi kunci utama dalam meraih keuntungan maksimal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top