Noumea – Kerusuhan tengah melanda Kaledonia Baru, wilayah otonomi Prancis di Pasifik. Keputusan parlemen Prancis yang memberikan hak pilih kepada penduduk Prancis yang tinggal di Kaledonia Baru selama 10 tahun memicu ketegangan. Masyarakat adat Kanak merasa kebijakan ini akan mengikis pengaruh politik mereka, dan protes pun berujung pada penjarahan dan kekerasan. Sejauh ini, enam orang tewas dan ratusan terluka.
Namun, di balik berita kerusuhan ini, ada kisah menarik tentang ribuan warga keturunan Jawa yang tinggal di Kaledonia Baru. Bagaimana mereka bisa sampai di sana? Seperti apa sejarahnya?
Pada akhir abad ke-19, Prancis membawa pekerja dari berbagai negara untuk menggarap tambang nikel di Kaledonia Baru. Di tahun 1896, sekitar 170 orang Jawa pertama kali dikirim oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pekerja kontrak di sektor perkebunan.
Selama lebih dari setengah abad, gelombang pekerja dari Jawa terus berdatangan. Sebanyak 19.510 orang Jawa dikirim dengan 87 kapal antara tahun 1896 dan 1949. Sebagian besar dari mereka akhirnya menetap dan menikah dengan penduduk setempat, membentuk komunitas peranakan yang unik.
Berdasarkan sensus penduduk pada 2019, Kaledonia Baru memiliki populasi sekitar 271.407 orang. Mayoritas penduduknya adalah keturunan Melanesia, yang mencapai 41,21% dari populasi. Sementara itu, 1,4% atau sekitar 3.789 orang merupakan keturunan Indonesia, terutama dari Jawa. Mereka telah membentuk komunitas yang solid dan bahkan memiliki organisasi sendiri bernama Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PMIK).
Bahasa Jawa yang digunakan oleh keturunan Jawa di Kaledonia Baru sudah mengalami percampuran dengan bahasa Prancis, menciptakan dialek khas yang disebut Bahasa Jawa Kaledonia Baru. “Ketika mengatakan kalimat 'ini adalah ikan yang dilindungi', bahasa Jawa-nya adalah 'iki iwak sing dilindungi'. Namun, dalam BJKB kalimat tersebut berubah menjadi 'iki posong sing diproteze',” jelas Subiyantoro, pengamat budaya dan bahasa Jawa dari Universitas Gadjah Mada.
Dalam situasi kerusuhan ini, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Nouméa memastikan bahwa tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban. Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Nouméa, Bambang Gunawan, menyatakan, “Kami di KJRI Nouméa terus memantau perkembangan, termasuk selalu menjalin kontak dengan WNI yang ada di sini dan pekerja migran.”.
Kisah komunitas Jawa di Kaledonia Baru adalah contoh menarik dari percampuran budaya dan sejarah migrasi yang panjang. Meski jauh dari tanah air, mereka terus mempertahankan identitas dan budaya Jawa, sambil beradaptasi dengan lingkungan baru yang multikultural. Semoga WNI dan peranakan Indonesia di Kaledonia Baru senantiasa dalam kondisi aman dan krisis yang terjadi segera kembali menjadi kondusif.
